Geser Ke Bawah untuk baca artikel
Sosial Budaya

Anak Muda Pulihkan Sulteng Dari Krisis Iklim

112
×

Anak Muda Pulihkan Sulteng Dari Krisis Iklim

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Festival wilayah kelola rakyat (WKR) dan diskusi Green Student Movement (GSM) di Desa Panjoka, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso.

POTRET SULTENG-Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Tengah bersama Solidaritas Perempuan (SP) Sintuwu Raya Poso, Yayasan Panorama Alam Lestari (YPAL), Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) dan Desa Panjoka melakukan kegiatan Festival wilayah kelola rakyat (WKR).

Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan diskusi Green Student Movement (GSM) di Desa Panjoka, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso.

Diskusi yang bertajuk Anak Muda Pulihkan Sulteng itu dihadiri oleh tiga narasumber yakni  Advokasi dan Kampanye Walhi Sulteng Wandi, Toko Pemuda Stevandi, dan SP Sintuwu Raya Poso Widya Ningrum Achmad.

Kegiatan itu dihadiri 52 orang anak muda berasal dari desa-desa yang berada di Kacamatan Pamona Utara serta tokoh-tokoh masyarakat juga kalangan umum lainnya seperti jurnalis dan media.

Advokasi dan Kampanye Walhi Sulteng Wandi menyampaikan, anak muda menjadi pihak strategis dalam mendorong keadilan ekologis dan keadilan iklim terhadapan ancaman krisis iklim.

“Dampak dari krisi iklim degradasi lingkungan, bencana alam, kerawanan pangan, air, kerentanan konflik, gangguan ekonomi, dan cuaca ekstrim serta menganggu aktivitas orang muda,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Kamis, (2/11/2023).

Hal itu mengingat berbagai gempuran industri di Sulawesi Tengah mulai dari Perkebunan sawit skala besar, Pertambangan nikel, batubara, emas, Batu gamping, Kawasan pangan nusantara (KPN), Bank tanah,  PLTA, dan PLTU Captive.

“Sehingga berdampak terhadap keberlangsungan masyarakat di tapak,” bebernya.

Sementara, Tokok Pemuda Stevandi mengungkapkan bahwa kondisi global saat ini tidak baik-baik saja.

“Bencana ekologis bisa kita amati dimana-mana. El Nino adalah bukti nyata yang bisa kita rasa bagaimana kemarau yang panjang sekarang sudah memberikan dampak buruk bagi kehidupan, petani kesulitan bertani, rakyat kesulitan air bersih dan lain sebagainya,” jelasnya.

Belum lagi, kata dia, maraknya ketidakadilan terhadap perempuan, baik di ranah keluarga, sosial, maupun di lingkungan.

Selain itu, SP Sintuwu Raya Poso Widya Ningrum Achmad menyampaikan, hubungan antara perempuan dan alam merupakan komponen yang berjalan bersamaan.

“Serta kita  melihat bagaimana kedekatan hubungan relasi dan juga keterkaitan perempuan dan alam. Dimana kedua berjalan bersamaan atau seiringan sehingga pembebasan keduapun harus dilakukan secara bersamaan,” ungkapnya.

Menurutnya, perempuan dan alam menjadi sebuah protes pada warisan budaya patriarki yang melandasi eksploitasi kepada lingkungan dan alam. Serta adanya kerusakan lingkungan sangat berdampak bagi keberlanjutan penghidupan perempuan.

“Krisis iklim adalah ulah dari sifat serakah sebagai manusia yang hanya terus mengejar keuntungan dengan mengeksploitasi alam tanpa pernah berpikir masa depan dan kehidupan, ini adalah tanggung jawab termasuk anak muda, kalau anak muda tidak berinisiatif dan berpastisipasi dalam penyelamatan lingkungan hidup maka kepunahan manusia tinggal menunggu waktu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan